ASSALAMU 'ALAIKUM

Mulailah dengan bismillahi rohmani rohim

Rabu, 10 September 2008

Merah Jambu-kan Hatimu

Merah jambu, kata orang identik dengan cinta
Kata orang* juga... kalau orang sedang jatuh cinta
karena bahagianya, indahnya, atau apalah rasanya,
Segala yang diminta akan diberi, apapun yang kepengen
agek dikasi...
Naahhh... apalagi kalau Allah yang sangat cinta
kepada hamba-Nya
(catatan: bukan menyamakan sifat manusia
dengan sifat Allah yang Maha Sempurna looh...)

Niih... ungkapan cinta Allah kepada kita di bulan
Ramadhan ini
”... Aku ini dekat. Akan Aku kabulkan doa orang-orang yang berdoa...”
Gak percaya... coba buka Surat cinta yang ditulis Allah,
Al Baqarah ayat 186. Ada, kan?

Muhammad, Kekasih Allah saja mengatakan bahwa kelompok manusia yang doanya tidak
ditolak Allah adalah doa orang
yang berpuasa hingga mereka berbuka.

Tuh kan... di satu bulan ini, Allah sangat mencintai kita
Saking cintanya Allah, kita yang biasa tunggat-tunggit
shalat Dzuhur hanya diberi satu pahala,
sekarang diberi 10 pahala.
Kita yang hanya sedekah seribu perak...
sekarang dikasih pahala yang senilai dengan zakat.
atau... setara emas 85 gr berharga Rp. 25,500,000,- 

Eh... ada lagi bonus: 1 malam beribadah bisa jadi
senilai 83 tahun 4 bulan kita sholat, zakat, puasa, haji,
senyum, buang paku di jalan tak henti-henti.

Loh kok.. itung-itungan gitu sich...
Ya... iya lah...
Kalau gak berusaha mengkalkulasi cinta Allah
Tak akan mau kita berusaha menggapainya

Nah...! Karena cinta Allah sangat besar kepada kita
Merah jambu-kan juga dong hati kita
Cintai Allah...!
Agar Ia yang dekat, semakin dekat
Dan jangan pernah henti berdoa.
Matahari esok yang tidak kita pinta pun,
selalu diberi Allah...
masa’ kita gak yakin dengan yang terucap saat berdoa

Selagi bulan masih penuh berkah...
Siapkan doa ditiap hari sisanya, yang berbeda
(biar gak overlaping ’gitu..)
Kata ustadz itu-tu Manajeman Doa namanya.

Hari ini : doa murah rezeki, dapet buka gratis
Besok : minta gak dapet ”order” satu pun
Lusa : pengen dak jadi ujian, kalo ujian dapet penguji yang ’bonam’, kalo dapat yang ’malam’ minta diganti yang ’bonam’.
Malah kalo biso dak ujian tapi lulus???
Coba saja berdoa...
Dst... dst.


* Orang tersebut TIDAK menyarankan untuk menjalani cinta yang tidak pada tempatnya, hingga rela memberikan “segala” yang diminta

Dari Putih (Akan) Kembali Putih

1. Putih – Merah
Warna kebangsaan. Yang selalu berkibar di langit Indonesia. Dan selalu berkobar di tengah lapangan saat jam ”keluar maen” tiba.
Ya... seragam pertama yang dipakai untuk mengenal dunia. Berkeliling bumi Allah ini lewat berbagai buku. Yang huruf beserta rangkaiannya kita pelajari dari seorang yang bernama guru. Kita yang dulunya buta, kini bisa membaca, bisa menulis dan bisa berhitung.

Indah saat ku lihat seorang anak kecil, masih dengan seragamnya, mengamati tulisan yang terpampang di spanduk kampanye. Bukan untuk melihat janji-janji sang calon pemimpin, tapi hanya untuk mengeja huruf per huruf yang tertulis disitu. C... O... B... L... O... S... N... O... 2... bla...bla...bla.... Setelah puas dieja, dengan polos ia meninggalkannya tanpa peduli apa maksud dari spanduk yang terpajang disitu.

2. Putih – Biru
Biru atau ’blue’ yang agak bernuansa negatif ini, maaf kalau dihubungkan dengan.... ????
Pubertas. Tanda biologis kedewasaan telah datang di usia ini. Segala ciri anak-anak seharusnya sudah ditinggalkan. Sabetan rotan mestinya tak lagi menghiasi kaki-kaki ini jika meninggalkan ibadah wajibNya.
Dosa-dosa sudah sepenuhnya menjadi tanggung jawab sendiri. Pelajaran ruhiyah putih-biru ini sepantasnya menambah ilmu di diri kita.

Ingatan ku saat dahulu tentang sekolah dengan celana pendek yang tak mampu menutup aurat ini. Ada seorang teman yang bela-belain bawa sarung dari rumah demi untuk sholat Dzuhur di mushola sekolah, sementara saat itu aku berfikir nanti saja kalau sudah sampai di rumah baru sholat.

3. Putih – Abu-abu
Masa yang tiba bersamaan dengan abu-abu atau milenium-nya zaman. Dunia terbuka didepan mata. Tak cukup dengan kitab tua yang hanya berisi tulisan, tetapi ada layar internet penuh warna dunia.
Ada teman yang bisa saja mengajak kita ke gemerlapnya dunia. Ada kebebasan yang mengizinkan kita pergi dan pulang malam. Diantara itu semua, kita masih harus belajar menentukan ke mana kaki kita ini selanjutnya melangkah... terus belajar, mencari kerja, atau segera berkeluarga. Dengan pijakan iman yang kuat pada kaki yang lain, tentunya.

Satu dari 40 teman di kelasku terperosok ke dalam jurang nista. Pernikahan dini pun akhirnya harus ia dijalani. Padahal sang wanita adalah seorang murid yang pintar, berada di deretan 3 teratas bersaing denganku. Namun nafsu berkata lain. Kepintaran otak yang tidak diimbangi keluhuran iman akan membawa kesesatan. Ia sekarang sibuk mengurusi dua orang anaknya. Dan entah kemana cita-citanya melambung pergi.

4. Gak ada putih-putihnya (seragam putih maksudnya)
Ya... warna yang agaknya membuat monoton 12 tahun hidup kita, akhirnya terlepaskan. Sekarang ada merah yang dipakai saat ceria, berguna untuk membiaskan kebosanan materi sang dosen.
Ada biru yang tidak dipakai di kala kuliah dosen yang hobi nanya si pemakai warna biru. Sah-sah saja kuliah memakai kaos jika yang duduk di depan mengenakan hal yang sama. Atau biar terlihat keren di kampus dapat dibalut dengan rompi, sweter atau jaket. Asal jangan berlebihan saja sampai dibilang metro....

Di kelasku pun begitu, ada banyak warna kehidupan. Ada putra daerah Baturaja, pelajar teladan Bangka. Dari metropolisnya Jakarta sampai minimalisnya Tempirai. Dari Bang Rhoma sampai Mas Ariel. Semuanya mewarnai kampus ini. Dan keindahan yang pasti terlihat yaitu kepala yang hitam persis terpisah dengan warna-warni jilbab.
Jadi kalau di dalam kelas semua mahasiswa duduk rapi dan dilihat dari belakang kelas, akan tampak gambaran hitam di sebelah kanan dan corakan berwarna dengan sedikit titik-titik hitam di sebelah kiri kelas. Dan titik-titik itupun perlahan memudar menjadi sama dengan sekelilingnya.

5. Kembali Putih
Dan sekarang kita sudah melewati berbagai warna di saat kuliah itu. Hasilnya insyaAllah kembali putih. Kita bukan coklat yang tegap di sisi buasnya jalan raya. Atau biru yang tinggi menjulang di luasnya angkasa. Atau beragam warna yang tampil di megahnya panggung adikarya.
Kita ini putih yang senyumannya saja dapat menghilangkan demam. Tapi putih kita bukannya putih safari berlapis jas hitam yang katanya berkoar-koar menyuarakan nasib rakyat. Atau putih koko yang seharusnya berkoar-koar menyuarakan kebenaran.

Ku ulangi lagi kita adalah putih, yang sentuhan tangannya saja dapat menutup luka yang memerah. Tapi putih itu pakaian luar kita. Masih mungkin ada hitam dibalik jas putih itu. Masih banyak warna yang akan tersembunyi didalamnya.

Teringat akan firman Allah swt
Shibghah/warna Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah. (Q.S. Al Baqarah: 138)

Tapi siapa bilang putih ini tak bisa seperti coklat yang biasa melindungi dan mengayomi. Kata siapa juga putih ini tidak dapat seperti putih yang lain yang juga mampu menyuarakan kebenaran dari Allah swt.

Kembali ke judul tulisan ini. Dari Putih (Akan) Kembali Putih.
Secara dzahir putih yang kita kenakan dari kecil ini akan terus membimbing kita menempuh pendidikan. Belajar yang tak hanya dari dunia formal, melainkan dari dunia Allah. Pendidikan yang mau tidak mau harus kita jalani dari buaian sampai liang lahat. Dan harus kita kejar sampai ke negeri Cow Yun Fat.
Secara bathin, putih yang menandakan bersih dari segala dosa laksana kita kecil dahulu akan kembali suci seusai ibadah Ramadhan ini. Ibadah yang tak hanya menghapuskan dosa kita sekarang tapi juga dosa kita dahulu. Insyaallah jika dengan sungguh-sungguh kita melaksanakannya.

Perlu diingat hukum fisika yang kita pelajari dahulu bahwa: putih itu terbentuk dari kumpulan berbagai macam warna.
Dan pastikan warna Allah selalu hadir didalamnya.

Rabu, 13 Agustus 2008

AGAR FUTUR TAK MAKIN MEWABAH

Sebuah buku yang ditulis oleh: Mahfuz Sidik, M.Si dan Musyaffa A. Rahman, Lc


Pendahuluan

Alhamdulillah, atas kehendak Allah swt., dakwah Islam terus memperluas orbit (mihwar) dakwahnya.

Perluasan orbit dakwah dari basis kader, lalu basis sosial kemudian basis politik.

Hal ini memunculkan konsekuensi besar yang harus diemban oleh gerakan dakwah dan kader-kadernya.

Sehingga dapat menimbulkan rangsangan dan perlawanan yang dapat mengakibatkan tergelincirnya kader dakwah. Misalnya muncul sikap futur dan insilakh.


Al Kahfi:28 " Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah metemu berpaling dari mereka (karena) mengharap perhiasan kehidupan dunia…


Pengertian

Futur

  1. secara umum, kata futur menunjukkan kepada adanya satu perubahan dari kondisi semangat, kencang, kuat dan semacamnya menuju ke kondisi kebalikannya.

  2. disebut futur jika sebelumnya ada masa semangat, kencang, kuat. Artinya kalau semenjak awal sudah lemah dan tetap lemah sampai sekarang, itu bukan futur

  3. futur sendiri ada berbagai tingkatan

  4. penyebab futur bermacam-macam, bisa karena sakit, usia lanjut dll

  5. futur juga menunjukkan bahwa seseorang yang terkena futur, bisa jadi akan mengalami perubahan mendasar. Misalnya jika air panas, kalau sudah dingin, maka asapnya pun menghilang, tidak ada lagi bekas-bekasnya.


Insilakh

  1. Insilakh adalah proses pelepasan dari satu kondisi kepada kondisi lainnya. Misal: dari kondisi siang menjadi malam, dari memiliki kulit menjadi tidak memiliki sama sekali.

  2. pelepasan tersebut terjadi sedikit demi sedikit dan proses ini terus berlanjut.

  3. sesuatu yang terlepas tidak akan kembali lagi


Potret Kasus Futur Dalam Berbagai Dimensinya

Dimensi

Bentuk kasus futur

Aqidah

1. pergeseran orientasi hidup, yaitu kepada duniawi

2. melemahnya keyakinan akan rezeki dari Allah

3. melemahnya partisipasi dakwah karna sibuk urusan nafkah

Ibadah

1. melemahnya disiplin terhadap aktifitas ibadah harian

2. tidak efektifnya mutaba’ah (monitoring) amaliyah yaumiyah

3. melemahnya keikutsertaan program pembinaan ruhiyah

Fikrah

1. melemahnya semangat meningkatkan ilmu

2. penyimpangan pemikiram

Akhlaq

1. Pergeseran adab dalam berbicara

2. hubungan yang longgar ikhwan-akhwat

3. melemahnya sikap hormat terhadap qiyadah

Tarbiyah

1. melemahnya disiplin dalam liqo

2. rasa jenuh dan mandek dalam aktifitas tarbiyah

3. enggan menjadi murobbi

Tanzhimiyah

1. melemahnya semangat menyambut tugas dakwah

2. melemahnya kepercayaan terhadap qiyadah

3. menolak tugas-tugas struktural

Faktor Penyebab Dan Pemicu Futur Dan Insilakh

Faktor

Faktor penyebab

Faktor pemicu

Tarbiyah

a. lemahnya pengelolaan sarana tarbiyah

b. lemahnya tarbiyah dzatiyah

c. aktifitas tatsqif tidak lancar

d. tidak mau terlibat aktifitas pembinaan


Struktural

a. kader mengalami kelebihan tugas

b. komunikasi tidak terbangun dua arah

c. sibuk dalam urusan administrasi

d. aspirasi tidak terakomodir

a. mekanisme kontrol yang lemah

b. murobbi kurang menerima informasi perkembangan dakwah

c. terjebak dalam agenda permukaan

Kepemimpinan

a. para musyayikh jarang turun ke bawah

b. kualitas muwajih menurun

c. lemahnya qudwah dari jajaran qiyadiyin

a. kalangan masyayikh jarang hadir acara kader

b. kader lama tidak mendapat tugas dakwah

c. penokohan terhadap kader yang bermasalah

Iklim dakwah

a. terlalu dominan masalah politik

b. kering ruhiyah

c. sibuk pekerjaan diluar

d. kurangnya tantangan dakwah

a. murobbi tidak mampu memotivasi

b. aplikasi manhaj tarbiyah belum berjalan

c. komposisi anggota halaqoh yangtidak efektif

d. murobbi tidak tegas terhadap anggotanya

Pribadi kader

a. sikap senioritas

b. kecewa terhadap interaksi dengan ikhwah

c. tidak siap bermasyarakat

d. lemahnya jalinan ukhuwah

a. tidak menjalankan sanksi

b. kurang dewasa menghadapi masalah

c. sibuk di lembaga/wajihah

d. lemahnya budaya tausiyah

Keluarga

a. lemahnya dukungan suami terhadap istri

b. istri terpengaruh suami yang futur

c. istri/suami belum tarbiyah

d. sibuk urusan rumah tangga


Lingkungan

a. kondisi ma’isyah yang sulit

b. pengaruh keluarga besar

c. pengaruh lingkungan pekerjaan


Peta Gagasan Solusi Gejala Futur Dan Insilakh

Aspek

Rincian gagasan solusi

Struktural

Ø membentuk lembaga khusus yang menangani masalah pribadi kader

Ø penerapan konsep analisa jabatan untuk pos-pos organisasi

Ø memberikan perhatian kepada kader secara utuh

Ø penguatan fungsi kontrol dan bimbingan

Kepemimpinan

Ø penyadaran umum di semua jajaran qiyadah akan gejala futur

Ø meningkatkan peranan tokoh senior di tiap daerah

Ø up-grading kemampuan kerja mas’ulin

Ø pewarisan nilai fikrah dan manhaj kesemua kader initi dakwah

Tarbiyah

Ø pemberian materi life skill

Ø proses tarbiyah perlu pengokohan sisi hubungan dengan Allah

Ø penguatan program tarbiyah dzatiyah

Ø melengkapi sarana dan media tarbiyah

Iklim dakwah

Ø mekanisme silaturahim diperkuat

Ø optimalisasi pendayagunaan akhwat

Ø ketegasan dan kejelasan penerapan hukum

Personil

Ø penyeimbangan jumlah kader antara daerah padat dan minim

Ø perlu program yang merangsang kader dinamis dan kreatif

Rabu, 14 Mei 2008

IKAN, LARON DAN SEMUT


Kutipan dari sebuah nasyid

Aku bertanya:
Pada semua ikan dikolam
Tidakkah kau bosan
Di tempat sesempit itu?
Dan ikan pun menjawab:
Tiada bosan
Walau berada ditempat sekecil ini
Karna aku disini bersama Tuhanku

Dan aku pun bertanya:
Pada laron yang beterbangan
Yang hidup hanya
semalam?
Dan ia pun menjawab:
Tiada tersia
Walau hanya semalam aku hidup di dunia
Karna dalam semalam aku hidup
ku sebut Tuhanku

Dan aku pun bertanya:
Pada semut-semut di sarangnya
Tidakkah kau rasa lelah
bekerja?
Dan ia pun menjawab:
Tiada lelah
Walau spanjang hidup aku terus bekerja
Karna setiap saat dalam bekerja
Bersama Tuhanku

Tanya pada diriku:
Bisakah hidup tanpa Tuhanku??
Sekeras apa kerja tanpa Tuhanku??